Kaderisasi KM ITB Sebagai Bagian Dari Dinamisasi Kemahasiswaan ITB

Posted on January 20, 2012

0


Keberadaan Kemahasiswaan ITB

Institut Teknologi Bandung adalah sebuah nama atau identitas perguruan tinggi atau universitas, yang apabila diartikan secara luas, maka bisa juga berarti sebuah komunitas, miniatur peradaban Indonesia yang memiliki aktivitas khusus dan jelas. Hakikatnya sebuah perguruan tinggi di setiap aktivitasnya selalu berlandaskan pada: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Pemahaman ini tidak boleh dan tidak bisa diartikan dengan kecenderungan reduksionistik, bahwa ITB hanyalah sebuah lembaga yang melahirkan orang- orang pintar dengan spesifikasi khusus, untuk kemudian terjun ke masyarakat dalam bentuk konkretnya bekerja di industri atau dunia kerja. Perguruan tinggi bukanlah tempat training semata, apalagi pabrik yang mengenal istilah produk gagal atau berhasil. Suatu universitas yang hanya menghasilkan orang- orang pintar (dalam hal ini alumni yang hanya mengedepankan nilai akademis) lama kelamaan akan menjadi steril, ia tidak memiliki dasar ilmiah serta karakter yang kuat, dan mau tidak mau, universitas semacam ini hanya akan jatuh menjadi  universitas medioker.

Salah satu tujuan perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis. Dengan tujuan untuk membentuk insan akademis ini maka seluruh proses yang berlangsung di perguruan tinggi adalah proses pendidikan dalam rangka membentuk karakter. Sikap guru besar yang bertanggung jawab dan kepakarannya dalam lingkungan ilmu adalah sumbangan yang besar dalam pembentukan karakter ini, tetapi itu saja belumlah cukup. Mahasiswa sendiri juga harus ikut serta mendidik dirinya sendiri (learning by themselves) dengan tetap berpedoman pada nilai kebenaran ilmiah.

Proses dan upaya mendidik diri-sendiri ini tidak akan berjalan efektif apabila dilakukan sendiri-sendiri dan tak tersistemasi. Oleh karena itu mahasiswa butuh alat untuk mengorganisir dan mensistemasi upaya-upaya mendidik diri-sendiri ini. Alat itu adalah organisasi kemahasiswaan. Oleh karena itu organisasi kemahasiswaan muncul karena adanya kebutuhan dari mahasiswa sendiri untuk menjamin efektivitas dan efisiensi upaya-upayanya dalam mendidik diri-sendiri.

Hingga titik ini, kita akan mulai melihat pentingnya interaksi antar mahasiswa, komunikasi antar displin ilmu, diskusi lintas ideologi, hingga kerjasama antar kompetensi dalam kerangka yang sama. Pembentukan karakter serta sinergisasi orientasi, dua hal besar yang menjadi jawaban, kenapa penurunan nilai dalam aktivitas kemahasiswaan mutlak diperlukan. Karena mahasiswa lah- ITB khususnya- salah satu unsur penting yang mewarnai Bangsa Indonesia, sekarang saat di kampus, atau kedepan nanti setelah lulus. Maka penegasan orientasi dan karakter itu diinkubasi di kampus Ganesha, ITB.

Kaderisasi Sebagai Bagian Dari Kemahasiswaan ITB

Setiap mahasiswa yang memasuki dunia kemahasiswaan ITB, perlu mengenal lingkungan kampusnya agar dapat leluasa beraktivitas. Ia harus beradaptasi terlebih dahulu dengan kampusnya, himpunan, unit dan lembaga kemahasiswaan lainnya, disamping beradaptasi dengan sistem perkuliahan yang tentu saja berbeda dari sistem di sekolah menengah.

Kaderisasi menjadi pintu gerbang bagi seorang mahasiswa ITB ketika memasuki sebuah organisasi kemahasiswaan di ITB. Di satu sisi, kaderisasi menjadi media pengenalan organisasi dan segala hal yang ada dalam organisasi, sekaligus media adaptasi bagi sang mahasiswa baru. Kaderisasi membantu mempercepat proses pengenalan dan adaptasi tersebut, sehingga mempercepat pula mahasiswa baru untuk terjun aktif dalam organisasi kemahasiswaan tersebut. Jika tak ada kaderisasi, maka dibutuhkan usaha (effort) lebih dan waktu yang banyak bagi mahasiswa baru untuk mengenal dan beradaptasi dengan organisasi kemahasiswaan.

Disamping itu, kaderisasi juga menjadi wahana pendidikan karakter bagi mahasiswa baru, dimana setiap kaderisasi pasti disusun dari inputan analisis kondisi mahasiswa baru, dan juga output yang hendak dikejar dalam proses pendidikan tersebut. Diharapkan keluaran yang hendak dicapai mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi setiap anggota baru. Kaderisasi pun menjadi wahan pembelajaran bagi sang pengkader (mahasiswa lama) untuk belajar mendidik adik-adik juniornya agar mampu cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kaderisasi bukanlah perpeloncoan, namun mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang hendak diturunkan pada mahasiswa baru.

Keberlangsungan suatu organisasi, bergantung pada kaderisasi yang dilakukan organisasi tersebut. maka, untuk memperpanjang nafas organisasi, dan agar roda organisasi terus berputar semakin baik semakin bertambahnya waktu, maka kaderisasi yang baik mutlak diperlukan. Hal ini sama dengan perusahaan yang melakukan training bagi karyawan barunya agar dapat bekerja dengan baik dan memajukan perusahaan, atau TNI Polri yang mendidik taruna barunya agar siap bekerja dengan baik di organisasinya, ataupun pegawai negeri yang ditraining agar siap bekerja baik bagi lembaga negaranya. Maka, kaderisasi haruslah dipandang dari banyak aspek, tidak dari permasalahan yang ada dalam sejarah yang selalu diperdebatkan.

Kaderisasi mesti dipahami sebagai sebuah proses. Dalam kaderisasi tidak pernah ada sesuatu yang instan, semuanya hanyalah bagian dari proses pembelajaran dari waktu ke waktu sesuai dengan alurnya masing-masing. Sebuah organisasi kemahasiswaan seperti KM ITB pun juga mempunyai alur kaderisasi miliknya sendiri bernama Rancangan Umum Kaderisasi KM ITB (RUK KM ITB). Sebagai halnya sebuah sistem yang di dalamnya terdapat berbagai macam proses, maka kaderisasi juga memiliki beberapa variabel untuk memastikan bahwa keberjalanan kaderisasi ini akan berlangsung dengan baik. Salah satu dari sekian banyak variabel dan yang juga akan menjadi fokus pembahasan kali ini adalah waktu kaderisasi.

Waktu Kaderisasi KM ITB dan Dinamisasi Kemahasiswaan ITB

Pergerakan mahasiswa selalu menemukan momentum yang berbeda dari tiap zaman. Tiap waktu memiliki tantangan dan tekanan yang berbeda, namun disitu ada kesamaan motif, yaitu moralitas dan idealisme. Dua hal yang menjadi prinsip selama hidup, bukan sementara saat di kampus, manakala masih di bangku kuliah saja. Selama di kampus, bisa saja (atau mungkin) metodenya kolektif, namun ketika sudah lulus metodenya lebih bersifat individual.

Gejolak yang terjadi pada dimensi sosial politik Negara pada tahun 1966 ( Pembubaran PKI), 1974 ( Malari, 15 Januari 1974), 1978 ( Pembubaran DEMA dan pemberlakuan NKK/ BKK), hingga 1998 ( Orde Reformasi) dimotori oleh mahasiswa, walaupun sebenarnya sebagian besar didorong oleh kacaunya situasi politik, ekonomi, dan sosial yang sudah terjadi selama 32 tahun. Sudah banyak catatan sejarah yang memaparkan dahsyatnya gelombang yang terjadi pada masa- masa tersebut beserta efek sosial hingga perubahan signifikan yang terjadi berikutnya.

Fakta sejarah di atas sebenarnya menunjukkan bagaimana kemahasiswaan ITB selalu bergerak dinamis sesuai dengan zamannya. Dalam mencapai kedinamisan seperti itu ada beberapa faktor yang menentukan dinamisasi kemahasiswaan, diantaranya adalah proses kaderisasi yang dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan tersebut (dalam hal ini elemen-elemen KM ITB) dan proses periodesasi yang dilakukan oleh elemen-elemen KM ITB. Proses periodesasi yang dimaksudkan disini adalah pergantian ketua lembaga dan serah terima jabatan dari ketua lembaga yang lama ke ketua lembaga yang baru.

Sistem kaderisasi lembaga-lembaga, terutama di himpunan, di KM ITB memiliki alur, karakter, proses, dan waktu yang berbeda-beda. Hal ini yang membuat sulitnya terjadi keselarasan dalam kaderisasi KM ITB. Padahal keselarasan kaderisasi adalah salah satu kunci bagaimana organisasi kemahasiswaan dapat berjalan dengan dinamis. Seperti yang sudah diuraikan di atas, dinamisasi organisasi kemahasiswaan penting agar kemahasiswaan tetap dapat berjalan berdasarkan motif moralitas dan idealisme, apapun zamannya. Untuk kali ini, pembahasan kita akan waktu kaderisasi bakal lebih menitikberatkan pada waktu kaderisasi awal (biasanya lebih dikenal dengan nama orientasi studi jurusan atau osjur)

Saat ini di berbagai lembaga di KM ITB, terutama di himpunan-himpunan, memiliki waktu kaderisasi awal yang berbeda-beda. Di beberapa lembaga ada yang sudah selesai ketika semester ganjil baru akan dimulai atau beberapa minggu setelah dimulai, sebagian lagi selesai setelah UTS atau menjelang UAS, dan sisanya selesai setelah UAS atau menjelang waktu liburan semester ganjil. Bahkan di beberapa kasus ekstrim, ada yang selesai pada saat liburan semester ganjil atau bahkan ketika semester genap telah dimulai.

Perbedaan waktu kaderisasi awal ini tentu akan menimbulkan perbedaan di waktu periodesasi di lembaga-lembaga KM ITB. Karena periodesasi himpunan-himpunan di KM ITB selalu berlangsung setelah proses kaderisasi awal selesai (karena seperti itulah ideal dan baiknya). Dan balik lagi ke pembahasan sebelumnya, perbedaan waktu kaderisasi dan periodesasi ini tentunya akan menghambat dinamisasi kemahasiswaan ITB.

Jika mencoba menilik lebih jauh lagi mengenai perbedaan waktu kaderisasi awal ini, secara umum dapat ditarik 2 alasannya. Pertama, dan yang paling sering dijadikan alasan, adalah kultur kaderisasi masing-masing himpunan yang berbeda-beda. Masing-masing himpunan merasa bahwa mereka memiliki alur kaderisasinya sendiri-sendiri sehingga terkadang sulit untuk bisa selaras dalam KM ITB. Kedua, kondisi masing-masing internal himpunan berbeda-beda. Hal seperti ini dapat berpengaruh cukup besar, mulai dari penyusunan materi hingga persiapan kondisi panitia. Bahkan dalam beberapa kasus khusus, kacaunya kondisi internal ini dapat memperlambat proses kaderisasi awal -dan periodesasi tentunya-, hingga berbulan-bulan lamanya. Hal ini otomatis tentu sangat menganggu dinamisasi kemahasiswaan di lembaga tersebut (seperti yang di himpunan penulis pada awal 2009 lalu, yang efeknya masih terasa hingga kini).

Optimasi Waktu Kaderisasi Awal

 

Ada sebuah fenomena yang menarik di dunia mahasiswa ITB semenjak berlakunya NKK/BKK, yaitu terbentuknya tembok- tembok tebal, berupa ego antar jurusan yang seakan menghalangi mahasiswanya untuk berinteraksi. Tembok tebal ini juga yang menghalangi terjadinya keselarasan dalam kaderisasi di KM ITB. Semua himpunan, terkungkung dalam paradigma sempit bahwa masing-masing keprofesian memiliki perbedaan dan cirri khas yang sulit untuk disatukan.

Padahal sudah kita bahas di atas, bahwa perguruan tinggi hendaknya mampu membentuk insan akademis, dengan kata lain adalah proses membentuk karakter. Bisa kita bayangkan bagaimana jika tidak ada keselarasan dan dinamisasi dalam kemahasiswaan ITB? Sudah pasti karakter alumni yang menjadi output dari KM ITB ketika terjun di dunia nyata nanti akan berbeda-beda dan tak akan tercipta profil karakter alumni yang jelas dari sebuah organisasi kemahasiswaan bernama KM ITB.

Oleh karena itu sebagai penutup, saya ingin memberikan beberapa rekomendasi kepada KM ITB sebagai solusi atas permasalahan ini:

1. Optimasi waktu kaderisasi awal

            Tuntutan akademik serta adanya tantangan bahwa kemahasiswaan ITB harus berjalan dinamis sesuai dengan berjalannya waktu (dengan kata lain waktu periodesasi dan kaderisasi awal dapat berjalan selaras di KM ITB), membuat mau tak mau kita harus melakukan optimasi waktu agar kaderisasi awal dapat berjalan lebih efektif. Salah satu solusinya adalah inisiasi kaderisasi wilayah di setiap fakultas/sekolah yang dilakukan kepada TPB. Hal ini nantinya akan berpengaruh pada materi dan alur kaderisasi di himpunan nanti, karena masing-masing himpunan sudah punya data yang jelas tentang calon kadernya, dan mereka pun tidak akan dianggap mulai dari “nol” lagi. Tentunya ini akan berdampak pada efektifas waktu kaderiasi awal di himpunan.

2. Alur kaderisasi KM ITB yang berorientasi pada pembentukan karakter alumni KM ITB

            Pendidikan dan kondisi kemahasiswaan memiliki korelasi positif terhadap kemajuan bangsa dan negara, karena posisi mahasiswa sebagai kekuatan moral memungkinkan untuk senatiasa memberi peringatan atas setiap kecenderungan ketidakberesan. Selain itu tempaan proses pendidikan akan menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki integritas, kepakaran dan komitmen kerakyatan yang tidak diragukan.

            Dari sini sudah jelas bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi nantnya harus menghasilkan alumni yang berkarakter, baik dalam hal keilmuan yang dipelajarinya maupun dalam kehidupan sosial di masyarakatnya nanti.

Kampus ITB dengan segala karakter khas, heterogenitas, serta nama besarnya membentuk mahasiswa ITB yang paham bahwa diri sejatinya adalah rakyat Indonesia, mampu bekerjasama antar disiplin ilmu untuk membentuk budaya ilmiah yang bisa memberikan kontribusi konkret bagi bangsa Indonesia. Untuk semua itu, dibutuhkan wahana yang bisa menjadi tempat danaproses untuk menurunkan nilai- nilai yang telah ada sebelumnya. Maka dibutuhkan juga pengkaderan untuk menjaga prinsip dan nilai tersebut tetap utuh dan padu. Dan sebaiknya, wahana tersebut dilakukan oleh mahasiswa ITB, bukan unsur yang lain.

Referensi

Fandy Wijaya (GD’94)           : Organisasi Mahasiswa

Iqbal Fauzi (KI’08)               : Draft Pembahasan Periodesasi KM-ITB

Maximillian Heartwood          : Kaderisasi; Sebuah Kebutuhan – Komunitas ITB dan Peradaban Indonesia

Samuel Zulkhifly (TM’06)      : Penyelarasan Kaderisasi Himpunan, Unit dan Lembaga  Kemahasiswaan Terpusat

Konsepsi KM ITB

Rancangan Umum Kaderisasi KM ITB